Dari pembawaannya yang lembut, ramah, penuh kasih dan keterbukaan terhadap masyarakat kecil, orang-orang yang dijumpai dan dilayani maka terjadilah satu pertemuan yang dirangkum dalam satu kata, yakni KASIH. Dan KASIH menurut Yosef Freinademetz adalah bahasa yang dimengerti oleh semua orang. Maka, Freinademetz pun beralih dari Yosef Freinademetz menjadi Yosef Fu; dari Yosef dari Tyrol menjadi Yosef dari Shantung; dari Yosef yang Eropa menjadi Yosef yang China.
Karena kasih, Yosef Freinademetz menjadi orang yang lemah lembut, sabar, tabah dan pasrah seperti anak domba di tengah serigala. Karena kasih, dia membawa hati ke tanah misi dan bukan pundi-pundi, bekal atau kasut. Dia membawa hati yang terbuka untuk mengasihi, hati yang lembut untuk menerima, hati yang sabar dalam menanggung penderitaan, hati yang pemaaf untuk mengampuni.
“Kalau kamu tahu isi ajaran yang kami wartakan ini, maka kami tidak akan diperlakukan seperti ini. Agama kami mengajarkan, jangan membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi balaslah kejahatan dengan kebaikan,” ungkap Yosef Freinademetz kepada para preman, sesudah dia dan katekisnya dianiaya.
Pater Yosef Freinademetz sungguh-sungguh menyerahkan dirinya untuk karya misi. Dia sungguh-sungguh menghayati dan melaksanakan spiritualitas beralih. Beralih mulai dari dirinya sendiri. Beralih dari orang Eropa menjadi orang China dalam segala-galanya.
Ada misionaris yang mengatakan: ‘Kami misionaris akan menjadi orang asing, baik di tanah misi maupun di tanah air sendiri. Sebab kita tidak akan berubah 100 % untuk menjadi dan hidup seperti orang-orang di tanah misi. Dan jika kami kembali, kami sudah merasa asing di tempat kami sendiri’.





