Seringat saya, pertama kali menemukan nama Ignas saat saya masih anak ingusan di kampung. Masih duduk di bangku sekolah dasar. Nama Ignas muncul sebagai penulis esai di Majalah Tempo. Saya tidak mengerti mengapa majalah terbitan Jakarta itu bisa muncul di Waibalun pada masa sekitar tahun 1976.
Sebagaimana biasa, foto penulis opini di Tempo selalu disertakan di halaman opini. Dan, foto Ignas yang kala itu belum berusia 30 tahun tampil dengan gaya pada zamannya. Difoto dengan wajah menyamping, rambut agak panjang terurai dengan rokok yang mengepul dari bibirnya. Matanya bulat terang agak melotot. Konon, itu mata orang-orang pintar.
Sungguh mati, saya sangat penasaran mengapa Ignas bisa muncul dan menulis di majalah itu?
Belakangan, saat menempuh pendidikan di Seminari San Dominggo Hokeng (1983-1987), saya jadi tahu seperti apa sosoknya, seberapa hebatnya nama Ignas. Tulisannya sangat sering muncul di Harian Kompas, majalah Tempo, juga di majalah kebudayaan Basis. Saya juga membaca dan mengikuti polemik kebudayaan yang menghiasi halaman harian Kompas yang juga sering menampilkan tulisan Ignas.Tulisannya selalu jadi buruan utama.
Sebagai sastrawan, sosiolog, cendekiawan, dan kritikus sastra hebat, tulisan-tulisan Ignas menyebar di beragam media cetak. Beragam tulisannya itu, harus diakui, menjadikan Ignas salah satu sosiolog terkemuka Indonesia saat ini, kritikus sastra paling tajam dan telanjang membedah karya sastra berbagai penulis.
Dari beragam tulisannya itu kuat tertangkap kalau Ignas menempatkan diri sebagai satu dari segelintir intelektual Tanah Air yang total berbakti pada ilmu. Totalitas baktinya pada ilmu itu bisa dilihat dari gaya dan pola hidupnya yang sederhana dan apa adanya. Tidak punya rumah mewah, tidak punya mobil mahal, tidak pernah menjadi konsultan politik partai, tidak menerima jabatan seperti dirjen, wakil menteri, komisaris perusahaan ini dan itu.






