Mengenang Abang Kami, Dr. Ignas Kleden, M.A

tony kleden2

Konon saat Soeharto berkuasa, Ignas  beberapa kali mendapat undangan kehormatan untuk hadir pada upacara-upacara kenegaraan.   Undangan itu ditolaknya dengan halus. Dia ingin berdiri di sudut netral dan kemudian mengemukakan pikirannya.

Pikirannya yang jernih tertuang dalam teks-teks berupa esai, kolom, makalah dan juga buku-buku. Namanya jadi populer bukan  karena tampangnya   yang sering terlihat di berbagai acara talk show  di  televisi. Juga bukan karena sering muncul di media sosial karena komentar nyinyir tentang suatu  fenomena di republik ini.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Secara intelektual, Ignas memang cerdas.  Pria yang lahir 19 Mei 1948 ini bintang kelas sejak sekolah dasar.  Saat ayahnya,  Yohanes Djuan  Kleden, seorang guru sekolah rakyat (SR/SD) pindah tugas dari Pamakayo, Solor ke Lewotala  (di Kecamatan Lewolema  sekarang), Ignas loncat kelas.  Ketika keluarga guru ini pindah ke Hewa, Kecamatan Wulanggitang, Ignas masuk Seminari San Dominggo Hokeng.

Guru Djuan dan istri, Katharina Sabu Hadjon, dianugerahi sepuluh orang anak.  Enam laki-laki dan empat perempuan.  Ignas anak laki-laki besar.  Didikan dan tempaan guru Djuan dan Mama Katharina menjadikan sepuluh anaknya benar-benar jadi manusia, jadi atadiken.

Beberapa nama keluarga ini patut disebut. Suster Stephania Kleden CIJ (alm),  Pater Dr. Leo Kleden, SVD  (dosen IFTK Ledalero),  Stephie Kleden Beetz (alm, penulis, penerjemah),  Ansis Kleden (penulis, editor dan penerjemah di Jakarta),   Kons Kleden (alm, wartawan dan penulis), Drs. Marianus Kleden, M.Si (dosen Unwira Kupang), Hermien Y Kleden (mantan wartawan Tempo)  dan Emil Kleden (aktivis LSM di Jakarta).

Pos terkait