Konon saat Soeharto berkuasa, Ignas beberapa kali mendapat undangan kehormatan untuk hadir pada upacara-upacara kenegaraan. Undangan itu ditolaknya dengan halus. Dia ingin berdiri di sudut netral dan kemudian mengemukakan pikirannya.
Pikirannya yang jernih tertuang dalam teks-teks berupa esai, kolom, makalah dan juga buku-buku. Namanya jadi populer bukan karena tampangnya yang sering terlihat di berbagai acara talk show di televisi. Juga bukan karena sering muncul di media sosial karena komentar nyinyir tentang suatu fenomena di republik ini.
Secara intelektual, Ignas memang cerdas. Pria yang lahir 19 Mei 1948 ini bintang kelas sejak sekolah dasar. Saat ayahnya, Yohanes Djuan Kleden, seorang guru sekolah rakyat (SR/SD) pindah tugas dari Pamakayo, Solor ke Lewotala (di Kecamatan Lewolema sekarang), Ignas loncat kelas. Ketika keluarga guru ini pindah ke Hewa, Kecamatan Wulanggitang, Ignas masuk Seminari San Dominggo Hokeng.
Guru Djuan dan istri, Katharina Sabu Hadjon, dianugerahi sepuluh orang anak. Enam laki-laki dan empat perempuan. Ignas anak laki-laki besar. Didikan dan tempaan guru Djuan dan Mama Katharina menjadikan sepuluh anaknya benar-benar jadi manusia, jadi atadiken.
Beberapa nama keluarga ini patut disebut. Suster Stephania Kleden CIJ (alm), Pater Dr. Leo Kleden, SVD (dosen IFTK Ledalero), Stephie Kleden Beetz (alm, penulis, penerjemah), Ansis Kleden (penulis, editor dan penerjemah di Jakarta), Kons Kleden (alm, wartawan dan penulis), Drs. Marianus Kleden, M.Si (dosen Unwira Kupang), Hermien Y Kleden (mantan wartawan Tempo) dan Emil Kleden (aktivis LSM di Jakarta).






