Tidak banyak mahasiswa yang bisa berbahasa Inggris, apalagi Jerman. Maka Ignas yang diwawancarai. Dia bicara bahasa Inggris dan Jerman meladeni para wartawan luar negeri.
Konon, sejak itulah nama Ignas jadi sangat terkenal di kalangan para aktivis mahasiswa Indonesia. Apalagi sejak itu Ignas mulai menulis di majalah dan koran-koran Jakarta. Namanya kian kesohor.
Ada cerita lain lagi. Ketika hendak melanjutkan pendidikan S2 di Jerman, Ignas tidak punya ijazah S1. Universitas Munchen Jerman, tempatnya melamar, bingung. Pengelola universitas mencari tahu sosok yang melamar S2 tanpa ijazah S1 ini. Mereka bingung karena Ignas menulis lamaran S2 dalam bahasa Jerman yang sempurna.
Seorang pastor SVD dari Polandia dikontak Kedubes Jerman di Jakarta. Pastor yang profesor itu meyakini mahasiswa itu tak lain Ignas. “Terima saja orang itu. Dia cerdas dan tidak perlu diragukan,” kata Pastor itu meyakini. Dan terjadilah, Ignas melanjutkan pendidikan S2 tanpa ijazah S1.
Dia meraih gelar M.A dengan predikat summa cum laude (dengan pujian setinggi-tingginya). Tesis S2 tentang filsuf ilmu pengetahuan Karl R Popper ditulisnya dalam bahasa Jerman.
Sedangkan untuk disertasi S3 di Univesitas Bielefeld, Jerman, Ignas menggugat studi Clifford Geertz tentang Indonesia secara keseluruhan. Disertasi ini ditulisnya dalam bahasa Inggris.
Cendekiwan Indonesia itu sudah kembali ke Sang Pengasal, Senin (22/1/2024) pagi. Orang, atadiken Lamaholot itu sudah tutup mata. Tetapi Ignas pergi meninggalkan nama besarnya. Ignas mewarisi pikiran-pikiran bernasnya untuk bangsa ini. Ignas sudah mengharumkan nama suku, nama Waibalun, nama Flores Timur, NTT dan bahkan Indonesia.






