Mengenang Abang Kami, Dr. Ignas Kleden, M.A

tony kleden2

Tidak banyak  mahasiswa  yang  bisa berbahasa Inggris, apalagi Jerman.   Maka Ignas yang diwawancarai. Dia bicara bahasa Inggris dan Jerman meladeni para wartawan luar negeri.

Konon, sejak itulah  nama Ignas jadi sangat terkenal di kalangan para aktivis mahasiswa Indonesia. Apalagi sejak itu Ignas mulai  menulis di majalah dan koran-koran Jakarta. Namanya  kian kesohor.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Ada cerita lain lagi. Ketika hendak melanjutkan pendidikan S2 di Jerman, Ignas tidak punya ijazah S1. Universitas Munchen Jerman,  tempatnya melamar,  bingung.  Pengelola universitas mencari tahu sosok yang melamar S2 tanpa  ijazah S1 ini.  Mereka bingung karena Ignas  menulis lamaran S2 dalam bahasa Jerman yang sempurna.

Seorang pastor SVD dari Polandia dikontak Kedubes Jerman di Jakarta. Pastor yang profesor  itu meyakini mahasiswa itu tak lain Ignas. “Terima saja orang itu. Dia cerdas dan tidak perlu diragukan,” kata Pastor itu meyakini.  Dan terjadilah, Ignas melanjutkan  pendidikan S2 tanpa  ijazah S1.

Dia meraih gelar M.A dengan predikat summa cum laude (dengan pujian setinggi-tingginya).  Tesis S2 tentang filsuf  ilmu pengetahuan Karl R Popper ditulisnya  dalam bahasa Jerman.

Sedangkan untuk disertasi  S3  di Univesitas  Bielefeld, Jerman, Ignas menggugat studi Clifford Geertz   tentang Indonesia secara keseluruhan. Disertasi ini ditulisnya dalam bahasa Inggris.

Cendekiwan Indonesia itu sudah kembali ke Sang Pengasal, Senin (22/1/2024) pagi.  Orang, atadiken  Lamaholot  itu sudah tutup mata. Tetapi Ignas pergi meninggalkan  nama besarnya.  Ignas mewarisi pikiran-pikiran bernasnya untuk bangsa ini.  Ignas sudah mengharumkan nama suku, nama Waibalun, nama   Flores Timur, NTT dan bahkan Indonesia.

Pos terkait