Saya melihat didikan keras penuh disiplin sang ayah dan sentuhan lembut sang mama, menjadikan semua anggota keluarga ini bisa mengenyam pendidikan tinggi. Mereka bisa menikmati pendidikan tinggi juga karena kecemerlangan otak. Semua mereka selalu jadi bintang di sekolah. Semua mereka sukses merenda hidup di berbagai medan bakti.
Saya ingat, ketika masih di bangku SD saya sering tidur malam dengan si bungsu Emil Kleden, ketika keluarga ini kembali ke Waibalun saat sang ayah memasuki masa purnabakti. Di rumah hanya tertinggal Emil. Semua kakaknya menyebar di mana-mana, untuk sekolah dan juga untuk kerja.
Keteraturan hidup keluarga sangat terasa di rumah. Makan mesti bareng di meja makan. Doa makan wajib hukumnya. Setelah makan Guru Djuan membagi kisah. Macam-macam kisah. Dari tugas sebagai guru di begitu banyak tempat sampai pengalaman-pengalaman unik dan heroik ketika mengejar anak-anak kampung yang lari ke hutan dan dan kebun untuk dibawa ke sekolah.
Cerita paling seru dan paling suka saya dengar adalah kisah sekolah anak-anaknya. Guru Djuan bangga mengisahkan prestasi anak-anaknya di sekolah.
Ignas, menurut Guru Djuan, memiliki kemampuan bahasa yang baik sekali. Tak heran, saat masih di bangku SMA Seminari San Dominggo Hokeng, Ignas sudah lancar berpidato dalam bahasa Jerman. Bahasa Inggris, tentu saja, juga dikuasainya sejak masa itu. Dari tulisan-tulisannya, buku-buku yang jadi referensinya kebanyakan dalam bahasa Inggris dan Jerman.
Ada cerita menarik. Usai berhenti dari Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, tahun 1973, Ignas mengadu nasib di Jakarta. Ketika meletus peristiwa Malari (Malapetaka Limabelas Januari) 1974, Ignas yang baru beberapa bulan di Jakarta tampil dan menyita perhatian luas. Sejumlah wartawan luar negeri ingin mewawancarai para mahasiswa yang tumpah berdemo di jalan.






