Kepergiannya tentu saja meninggalkan duka lara bagi keluarga. Tetapi keharuman nama dan buah pikirannya yang bernas dan berguna bagi banyak orang menjadi alasan bagi keluarga untuk menyatakan terima kasih kepada Dia yang memberi hidup. Memberi seorang anak suku bernama Ignatius Nasu Kleden.
Untuk menghormatinya sebagai seorang kritikus sastra, saya mengutip sajak karya Sapardi Djoko Damono berjudul ‘Pada Suatu Hari Nanti’ berikut ini:
Pada suatu hari nanti
Jasadku tak akan ada lagi
Tapi dalam bait-bait sajak ini
Kau takkan kurelakan sendiri
Pada suatu hari nanti
Suaraku tak terdengar lagi
Tapi di antara larik-larik sajak ini
Kau akan tetap kusiasati
Pada suatu hari nanti
Impianku pun tak dikenal lagi
Namun di sela-sela huruf sajak ini
Kau takkan letih-letihnya kucari
Selamat jalan kakak, saudara kami Ignatius Nasu Kleden. Requiem aeternam, dona ei, Domine!*






